Kata syukur dalam al-Qur’an disebutkan setidaknya 75 kali; tersebar dalam 69 ayat dan 37 surat sekurangnya terbagi atas 18 bentuk (misal: bentuk agar kalian bersyukur disebutkan 15 kali), 7 ayat dalam bentuk perintah bersyukur, dan seterusnya. Hakikat syukur adalah mengakui dan menampakkan nikmat, sementara mengingkarinya adalah kufur.
Guna memudahkan pemahaman mengenai konsep syukur, materi ini disusun berdasarkan akronim dari kata RISE. Sebagaimana matahari yang terbit (rise) di ufuk timur membawa cahaya bagi semesta, rasa syukur seharusnya juga terbit atau bangkit dalam sanubari setiap Muslim, menerangi kehidupan dengan kebahagiaan, ketenangan, dan keberkahan yang melimpah
R: Renungi
Langkah pertama dalam membangun rasa syukur adalah merenungi (contemplation) segala nikmat yang telah Allah ta’ala anugerahkan. Seringkali manusia menjalani kehidupan dengan kelalaian, lupa bahwa setiap detak jantung, setiap hembusan napas, dan setiap kesempatan untuk beribadah adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)
Ayat yang agung ini menegaskan bahwa modal dasar kehidupan manusia—pendengaran, penglihatan, dan hati—diberikan oleh Allah dengan satu tujuan utama, yaitu agar manusia pandai bersyukur. Ketiga anugerah ini seringkali dianggap biasa, padahal tanpanya, kehidupan akan terasa hampa dan penuh kesulitan. Renungan mendalam terhadap ayat ini seharusnya menggugah kesadaran bahwa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan pengakuan hati atas kebesaran Sang Pemberi Nikmat.
Lebih jauh lagi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menantang manusia untuk menghitung seluruh nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Firman Allah dalam Surat Ibrahim:
وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ ࣖ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)
Ayat ini mengandung peringatan keras sekaligus dorongan untuk terus merenung. Ketidaksanggupan manusia menghitung nikmat Allah seharusnya melahirkan sikap tawadhu’ (rendah hati) dan kesadaran bahwa diri ini sangat bergantung kepada-Nya. Renungan yang mendalam terhadap kedua ayat tersebut menjadi fondasi kokoh bagi seorang hamba untuk melangkah ke jenjang syukur berikutnya.
I: Ingat, sebut (Zikir)
Setelah merenung di dalam hati, syukur perlu diejawantahkan melalui lisan. Inilah yang disebut dengan zikir bil lisan—mengingat nikmat Allah dengan ucapan. Ada dua cara utama untuk mengimplementasikan syukur melalui lisan.
Pertama, memperbanyak menyebut dan membicarakan nikmat Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).” (QS. Adh-Dhuha: 11)
Perintah dalam ayat ini bukan berarti seorang hamba diperbolehkan pamer atau sombong atas apa yang dimilikinya. Akan tetapi, yang dimaksud adalah mengakui dengan lisan bahwa segala kebaikan yang diterima berasal dari Allah semata. Ketika seseorang mengucapkan “Alhamdulillah” atas kelancaran rezeki, kebahagiaan keluarga, atau kesembuhan dari penyakit, pada saat itulah ia sedang membicarakan nikmat dengan cara yang benar dan diridhai.
Kedua, berterima kasih dan mendoakan orang lain. Rasa syukur vertikal kepada Allah harus dibuktikan dengan hubungan horizontal yang baik kepada sesama manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لا يشكر الله من لا يشكر الناس
“Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah, siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan keterkaitan erat antara syukur kepada Allah dan apresiasi kepada sesama. Siapa pun yang menjadi perantara sampainya nikmat Allah, baik itu orang tua, guru, rekan kerja, atau tetangga, berhak mendapatkan ucapan terima kasih. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa yang indah sebagai bentuk penghargaan tertinggi:
من صنع إليه معروف فقال لفاعله جزاك الله خيرا فقد أبلغ في الثناء
“Barangsiapa yang diperlakukan baik, lalu ia berkata kepada pelakunya, ‘Jazakallahu khairan’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh ia telah mencapai puncak dalam berterima kasih.” (HR. Tirmidzi)
Ucapan terima kasih kepada manusia tidak mengurangi rasa syukur kepada Allah ta’ala, justru menyempurnakannya karena hal tersebut merupakan pengakuan bahwa Allah ta’ala melimpahkan nikmat melalui perantara hamba-hamba-Nya.
S: Salurkan
Syukur tidak boleh berhenti pada lisan semata, melainkan harus mengalir dalam bentuk perbuatan nyata. Inilah esensi dari syukur bil arkan—menyalurkan nikmat melalui tindakan anggota badan. Ada beberapa aspek penting dalam penyaluran nikmat ini.
- Penyaluran untuk diri sendiri.
Sebelum memberi kepada orang lain, seorang Muslim harus memastikan bahwa dirinya sendiri telah mendapatkan haknya secara proporsional. Dalam sebuah riwayat dari Jabir ra., ia berkata: “Ada seorang lelaki dari bani ’Udzrah memerdekakan budaknya yang digantungkan setelah kematiannya. Lalu hal itu sampai pada Rasulullah saw. Beliau kemudian bertanya: “Apakah kamu punya harta selain budak itu?” Lelaki itu menjawab: “Tidak”. Lalu Rasulullah bertanya kepada (para sahabat): “Siapa yang mau membelinya sebagai ganti dariku?” Lalu Nu’aim bin Abdillah Al-’Adawi membeli budak itu seharga 800 dirham. Lalu lelaki itu membawa uang 800 dirham itu kepada Rasulullah saw, kemudian diserahkan kepadanya (dalam riwayat An-Nasa’i lelaki itu punya utang kepada Rasulullah saw dan menyerahkan uang itu untuk melunasinya). Lalu Rasulullah saw bersabda:
ابدأ بنفسك فتصدق عليها، فإن فضل شيء فلأهلك. فإن فضل عن أهلك شيء، فلذي قرابتك. فإن فضل عن ذي قرابتك شيء، فهكذا وهكذا
“Mulailah dari dirimu, bersedekahlah untuknya. Jika masih ada kelebihan, berikan untuk keluargamu. Jika masih ada kelebihan dari keluargamu, berikan untuk kerabatmu. Jika masih ada kelebihan dari kerabatmu, barulah untuk ini dan itu (orang lain).” (HR. Muslim)
Hadits ini mengajarkan prioritas dalam menyalurkan nikmat. Seorang hamba tidak diperkenankan berlaku boros atau dermawan secara berlebihan hingga melupakan kewajiban terhadap diri dan keluarganya. Keseimbangan dalam membelanjakan harta adalah wujud syukur yang bijaksana.
Kepada siapa nikmat harus disalurkan?
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam Al-Qur’an:
يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ۗ قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Harta apa saja yang kamu nafkahkan, hendaknya diberikan kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.’ Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 215)
Ayat ini memberikan panduan komprehensif tentang prioritas penerima infak. Orang tua menempati urutan pertama, disusul kerabat, anak yatim, orang miskin, dan musafir yang kehabisan bekal. Urutan ini menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial dimulai dari lingkaran terdekat, lalu meluas ke masyarakat yang lebih besar.
Berapa banyak yang harus disalurkan?
Pertanyaan ini juga dijawab dalam Al-Qur’an:
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ وَيَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ەۗ قُلِ الْعَفْوَۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَۙ
…..”Dan mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan’….” (QS. Al-Baqarah: 219)
Yang dimaksud dengan al-‘afwa dalam ayat ini adalah kelebihan harta setelah memenuhi kebutuhan pokok diri dan keluarga. Islam tidak menghendaki pemeluknya menjadi fakir karena bersedekah, melainkan mendorong keseimbangan antara memenuhi hak diri dan berbagi dengan sesama.
E: Ekspresikan
Puncak dari rasa syukur adalah ekspresi total (atau menampakkan nikmat), baik dalam bentuk ibadah mahdhah (khusus) maupun dalam gaya hidup sehari-hari.
- Bersujud Syukur sebagai ekspresi spontan diiringi sedekah.
Ini adalah yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendapatkan kabar gembira atau menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah ta’ala maka beliau langsung bersujud syukur. Dalam sebuah riwayat disebutkan:
أنه كان إذا جاءه أمر سرور أو بشر به خر ساجدا شاكرا لله
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila datang kepadanya suatu perkara yang menggembirakan atau ia diberi kabar suka cita, beliau langsung bersujud sebagai bentuk syukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud)
Sujud syukur ini mengajarkan bahwa respons spontan seorang hamba ketika menerima nikmat adalah merendahkan diri di hadapan Sang Pemberi Nikmat. Air mata kebahagiaan yang menetes saat sujud adalah bahasa hati yang paling fasih dalam mengungkapkan rasa terima kasih.
Sujud dilakukan memperhatikan tata cara yang benar, seperti bersuci, menghadap kiblat dan menutup aurat. Hendaknya sujud syukur juga diiringi sedekah sebagaiman disebutkan dalam Kitab Fikih, ’. ويسن مع سجدة الشكر كما في المجموع الصدقة “Bersamaan dengan sujud syukur, disunahkan bersedekah seperti dikutip dari kitab Al-Majmuk” (Al-Khotib dalam Iqna).
2. Menampakkan nikmat dalam penampilan
Seorang sahabat bernama Abil Ahwash al-Jushami datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pakaian yang lusuh. Rasulullah bertanya apakah ia memiliki harta. Ia menjawab, “Ya, Allah telah memberiku berbagai macam harta.” Maka Rasulullah bersabda:
فإذا أتاك الله مالا فليُر عليك أثر نعمة الله وكرامته
“Jika Allah memberimu harta, maka hendaklah terlihat padamu dampak dari nikmat dan kemuliaan Allah (pada dirimu).” (HR. An-Nasa’i)
Dalam riwayat lain disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
إن الله يحب أن يرى أثر نعمته على عبده
“Sesungguhnya Allah suka melihat dampak nikmat-Nya pada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi)
Hadits-hadits ini memberikan pemahaman bahwa berpenampilan baik, rapi, dan bersih, sesuai dengan kemampuan, adalah bagian dari ekspresi syukur. Tentu saja hal ini harus dilakukan dalam batasan syariat dan tidak disertai sikap sombong atau bermegah-megahan.
Demikian pula menampakkan harta melalui sedekah. Jika seseorang diberikan kekayaan ia diperbolehkan bersedekah dengan menampakkan sedekahnya atau tanpa menutupi identitas–walaupun sedekah secara sembunyi itu lebih baik, sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah ayat 271 Allah berfirman:
اِنْ تُبْدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۚ وَاِنْ تُخْفُوْهَا وَتُؤْتُوْهَا الْفُقَرَاۤءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِّنْ سَيِّاٰتِكُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
“Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu baik. (Akan tetapi,) jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahanmu. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
3. Ekspresikan melalui ibadah yang tekun
Ketika Allah ta’ala memenangkan kaum Muslimin dalam Perang Badar, Allah tidak hanya memerintahkan mereka bersyukur secara lisan, tetapi diakhiri dengan perintah untuk bertakwa:
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah, agar kamu bersyukur.” (QS. Ali Imran: 123)
Ayat ini menunjukkan bahwa ketakwaan dan ibadah yang istiqamah adalah wujud konkret dari rasa syukur. Semakin tinggi rasa syukur seseorang, seharusnya semakin tekun pula ia dalam beribadah. Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengapa beliau shalat malam hingga kaki beliau bengkak, padahal dosa-dosa beliau telah diampuni. Rasulullah menjawab:
يا عائشة ! أفلا أكون عبدا شكورا
“Wahai Aisyah, tidakkah aku boleh menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jawaban agung ini mengajarkan bahwa puncak syukur adalah ketika seorang hamba terus meningkatkan kualitas ibadahnya, bukan karena takut akan siksa atau mengharap surga semata, tetapi karena kecintaannya kepada Allah yang telah melimpahkan nikmat tak terhingga.
Hukum dan Kedudukan Syukur
Para ulama sepakat bahwa syukur hukumnya wajib atas setiap Muslim. Lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yang hukumnya haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Ayat ini memuat perintah yang tegas untuk bersyukur dan larangan yang jelas untuk mengingkari nikmat. Konsekuensi dari kedua sikap ini dijelaskan dalam ayat lain:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'” (QS. Ibrahim: 7)
Janji penambahan nikmat bagi yang bersyukur dan ancaman azab bagi yang mengingkari menunjukkan betapa seriusnya persoalan syukur ini dalam pandangan Allah. Syukur bukan sekadar akhlak mulia, melainkan kewajiban agama yang memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi.
Kedudukan syukur sangat tinggi dalam Islam. Allah berfirman tentang keluarga Nabi Daud ‘alaihissalam:
اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai bentuk rasa syukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Ayat ini mengandung dua pelajaran penting. Pertama, syukur adalah karakter para nabi dan orang-orang pilihan. Kedua, hamba yang benar-benar bersyukur jumlahnya sedikit. Ini menjadi motivasi sekaligus peringatan agar setiap Muslim berusaha keras termasuk dalam golongan minoritas yang istimewa tersebut.
Manfaat Syukur terhadap Etos Kerja
Riset modern telah membuktikan apa yang Al-Qur’an ajarkan empat belas abad yang lalu. Banyak studi tentang pengaruh syukur terhadap etos kerja. Salah satunya dilakukan oleh Gabrielle Nicuta (2021) terhadap 246 karyawan selama 10 minggu di Rumania menunjukkan korelasi yang kuat antara rasa syukur dan peningkatan etos kerja. Hasilnya Positif signifikan, baik secara cross-sectional (pada satu waktu) maupun longitudinal (dari waktu ke waktu) . Artinya, semakin tinggi rasa syukur seseorang, semakin baik kinerja tugas intinya, dan efek ini bertahan setelah 10 minggu.
Menariknya, hasil penelitian ini dapat dianalisis menggunakan kerangka RISE yang telah diuraikan sebelumnya di atas.
- R=Resilience (ketangguhan). Karyawan yang memiliki kebiasaan merenungi nikmat cenderung lebih tangguh dalam menghadapi tekanan pekerjaan. Mereka tidak mudah mengeluh atau putus asa ketika menghadapi tantangan, karena kesadaran bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan dan hikmah di baliknya.
- I= Intrinsic Motivation/intention (motivasi internal). Rasa syukur mendorong seseorang bekerja karena dorongan dari dalam, bukan semata-mata karena imbalan eksternal. Pekerjaan terasa bermakna dan menyenangkan karena dipandang sebagai ladang ibadah dan kesempatan untuk memanfaatkan nikmat Allah. Ketika niat bekerja dilandasi ibadah, etos kerja muncul secara alami tanpa perlu dipaksa.
- S= Sincerity (ketulusan). Rasa syukur yang diejawantahkan dalam bentuk berbagi kepada sesama membuat seseorang bekerja dengan hati yang tulus. Karyawan tidak bekerja dengan pamrih atau keterpaksaan, melainkan dengan kesadaran bahwa pekerjaan adalah amanah yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya sebagai bentuk terima kasih atas kesempatan yang diberikan.
- E= Engagement (keterikatan). Karyawan yang mengekspresikan syukur dalam sikap dan perilaku cenderung terlibat secara emosional dan mental dalam pekerjaannya. Mereka hadir sepenuhnya, antusias, dan berdedikasi terhadap tugas-tugas yang diemban. Pekerjaan bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari identitas dan aktualisasi diri.
Lebih lanjut, interaksi dari elemen-elemen ini membentuk karakter unggul yang saling memperkuat.
- R + I = membentuk ketangguhan mental yang preventif, sehingga seseorang tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan kerja yang negatif.
- I + S = menciptakan perspektif positif yang reflektif, di mana seseorang mampu melihat hikmah di balik setiap peristiwa.
- S + E = membangun kesadaran syukur yang detail, sehingga seseorang peka terhadap hal-hal kecil yang patut disyukuri.
- R + E = mengarahkan pada orientasi aksi yang progresif, di mana seseorang terus bergerak maju dan berkembang.
Sebuah artikel yang diterbitkan oleh International Society for Self and Identity bahkan mengajukan pertanyaan menarik:
“Is Gratitude the Productivity Hack We’ve Overlooked?”
“Apakah Syukur adalah Rahasia Produktivitas yang Terlupakan?” (Sumber: issid.org, 2021)
Pertanyaan ini menggugah kesadaran bahwa dalam dunia modern yang sibuk mencari teknik-teknik produktivitas canggih, manusia sering melupakan faktor fundamental yang diajarkan agama sejak lama: rasa syukur. Syukur ternyata bukan hanya baik untuk akhirat, tetapi juga efektif untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas di dunia.
Doa Agar Menjadi Hamba yang Bersyukur
Pada akhirnya, syukur adalah anugerah yang harus dimohonkan kepada Allah. Manusia tidak mampu bersyukur dengan sempurna tanpa pertolongan-Nya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan sebuah doa yang agung kepada sahabatnya, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Dalam sebuah riwayat disebutkan:
عن معاذ بن جبل، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أخذ بيده وقال “يا معاذ والله إني لأحبك والله إني لأحبك” فقال “أوصيك يا معاذ لا تدعن في دبر كل صلاة تقول اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
Dari Mu’adz bin Jabal, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tangannya dan bersabda, “Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Demi Allah, sungguh aku mencintaimu.” Kemudian beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu’adz, janganlah engkau tinggalkan di setiap akhir shalat untuk membaca: ‘ALLĀHUMMA A’INNĪ ‘ALĀ DHIKRIKA WA SYUKRIKA WA ĤUSNI ‘IBĀDATIK’ (Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu).” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)
Doa yang diajarkan Rasulullah ini mengandung tiga permohonan sekaligus: memohon pertolongan untuk berzikir (mengingat Allah), bersyukur, dan beribadah dengan baik. Ketiganya saling terkait erat. Zikir adalah pintu menuju syukur, syukur adalah jalan menuju ibadah yang berkualitas, dan ibadah yang baik adalah tujuan akhir penciptaan manusia.
Disclaimer: Materi ini disusun untuk kebutuhan acara Kultum Iftar 1447 H di PT Indonesia Infrastructure Finance dengan tema RISE in Gratitude, materi dibatasi sesuai tema tersebut tanpa mengurangi luasnya samudera tafsir. Wallahu a’lam bish-shawab.
Bacaan:
Al-Qur’an al-Karim.
Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy’ats. (2009). Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar ar-Risalah al-‘Alamiyyah.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. (2002). Shahih al-Bukhari. Damaskus: Dar Ibnu Katsir.
Muslim bin al-Hajjaj. (2006). Shahih Muslim. Riyadh: Dar Thayyibah.
An-Nasa’i, Ahmad bin Syu’aib. (2001). Sunan an-Nasa’i. Riyadh: Maktab al-Ma’arif.
At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. (1998). Sunan at-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.
Nicuta, G. (2021). *The impact of gratitude on work engagement: A 10-week study on employees in Romania*. Studi ini dikutip dari artikel ringkasan yang dipublikasikan oleh International Society for Self and Identity.
International Society for Self and Identity. (2021). Is gratitude the productivity hack we’ve overlooked? Diakses dari https://www.issid.org/post/is-gratitude-the-productivity-hack-we-ve-overlooked