Tafsir Cinta: Tingkatan Cinta dalam Perspektif Tasawuf

Konsep cinta (mahabbah) dalam Islam, khususnya dalam kajian tasawuf, tidak hanya dipandang sebagai emosi, tetapi sebagai sebuah keadaan spiritual (hal) yang memiliki tingkatan-tingkatan. Para ulama tasawuf mengklasifikasikan cinta berdasarkan motivasi dan kedalaman pengorbanannya. Berikut adalah penjelasan tiga tingkatan cinta tersebut, dilengkapi dengan dalil dan pendapat ulama.

1. Cinta Individualistik (Hub al-Dzat atau Hubb al-Lildzati)

Ini adalah tingkatan cinta yang paling dasar dan bersifat egois. Seseorang mencintai sesuatu atau orang lain semata-mata karena manfaat, kenikmatan, atau pujian yang akan kembali kepada dirinya sendiri. Cinta jenis ini berpusat pada kepentingan diri (ana’iyyah/أنانية).

Al-Qur’an seringkali mengingatkan manusia untuk melampaui cinta jenis ini. Sebagai contoh, kecintaan yang berlebihan pada harta dan anak-anak dapat melalaikan dari mengingat Allah (QS. Al-Munafiqun [63]: 9). Cinta jenis ini juga tercermin dalam firman Allah:

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

“…dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr [89]: 20).

Cinta kepada Allah pada tahap awal juga seringkali dimulai dari motif ini, yaitu mencintai-Nya karena nikmat dan karunia yang Dia berikan. Boleh jadi seseorang mencintai kepada Allah ta’ala karena DIA teleh banyak melimpahkan nikmat, ini cinta yang boleh, wajar dan sah. Namun mungkin ini adalah tingkat awal, yakni mencintai-Nya atas segala nikmat yang diberikan. Tetapi dalam perspekstif tasawuf tidak boleh berhenti di sini. Seorang sufi harus naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Cinta individualistik ini digambarkan sebagai cinta yang rapuh karena jika sumber kenikmatannya hilang, maka cintanya pun bisa pudar.

2. Cinta Transaksional (Hubb al-Silah atau Hubb al-Sabab)

Pada tingkatan ini, cinta bersifat timbal balik dan kondisional. Seseorang mencintai karena dicintai, berbuat baik karena dibalas baik, dan memberi karena menerima. Jika feedback atau balasan itu terputus, cinta bisa berubah menjadi kebencian. Pernyataan “banyak orang jahat adalah orang baik yang terzalimi” seringkali bermula dari kegagalan dalam cinta transaksional ini; ketika pengorbanan dan kebaikannya tidak dihargai, ia merasa terzalimi dan balik menyakiti.

Al-Qur’an mengajarkan untuk tetap berbuat baik meskipun dibalas dengan kejahatan, yang menunjukkan bahwa seorang muslim dituntut untuk melampaui cinta transaksional. Dalam Surah Ali Imran ayat 134, mengisyaratkan pentingnya memberi (memberi harta, memberi maaf) dan bahkan berbuat baik (ihsan) kepada orang yang menyakiti atau orang yang berbuat salah kepada kita:

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali-Imran/3: 134).

Al-Quran juga memerintahkan untuk menolak kejahatan dengan cara yang baik:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat [41]: 34).

Sebuah hadits juga menggambarkan kelemahan cinta karena dunia:

«…وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِالْقَبْرِ فَيَتَمَرَّغُ عَلَيْهِ وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ وَلَيْسَ بِهِ الدِّينُ إِلَّا الْبَلَاءُ»

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, dunia tidak akan musnah hingga seseorang melewati sebuah kuburan, lalu ia berguling-guling di atasnya dan berkata, ‘Seandainya aku adalah penghuni kubur ini!’ Dan bukan karena agama (yang menyelamatkannya) melainkan karena cobaan (yang menimpanya di dunia).” (HR. Muslim). Hadits ini menggambarkan penyesalan di akhirat karena motif duniawi.

Jadi cinta jenis ini masih terikat pada sebab. Boleh jadi jika kita mencintai Rasulullah saw karena beliau adalah penyebab sampainya hidayah kepada kita, atau mencintai Al-Qur’an karena ia adalah petunjuk termasuk cinta jenis ini. Tentu saja cinta demikian tidak terlarang, bahkan kedudukannya lebih tinggi dari cinta individualisti. Namun dalam perspektif tasawuf nampak masih memiliki “penghalang” atau hijab antara orangg tersebut dengan Yang Dicintai, yaitu “sebab” tersebut. Surah al-Ahzab ayat 6 menegaskan keharusan seorang muslim mendahulukan Nabi SAW di atas segalanya:

اَلنَّبِيُّ اَوْلٰى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ اَنْفُسِهِمْ وَاَزْوَاجُهٗٓ اُمَّهٰتُهُمْۗ وَاُولُوا الْاَرْحَامِ بَعْضُهُمْ اَوْلٰى بِبَعْضٍ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ اِلَّآ اَنْ تَفْعَلُوْٓا اِلٰٓى اَوْلِيَاۤىِٕكُمْ مَّعْرُوْفًاۗ كَانَ ذٰلِكَ فِى الْكِتٰبِ مَسْطُوْرًا ۝٦

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (saling mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu hendak berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Demikian itu telah tertulis dalam Kitab (Allah).” Al-Ahzab: 6)

Jadi cinta kepada beliau SAW adalah mutlak, demikian seharusnya cinta kepada Allah ta’ala tanpa perlu ada sebab seperti pada penjelasan cinta jenis pertama.

3. Cinta Sejati (Al-Mahabbah al-Haqiqiyyah atau Hubb al-Lillah)

Ini adalah puncak tertinggi dari cinta, yang dalam tasawuf disebut mahabbah. Cinta ini murni, tulus, dan tanpa syarat. Seseorang mencintai, memberi, dan berkorban semata-mata karena Allah, tanpa mengharapkan balasan apapun dari makhluk, bahkan tanpa mengharapkan surga atau takut neraka. Cinta ini adalah buah dari makrifat (mengenal Allah).

Cinta ini adalah cinta tulus yang hanya memberi tanpa berharap menerima.

Cinta sejati ini digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai cinta tertinggi yang harus mengalahkan cinta-cinta yang lain:

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah [9]: 24).

Cinta ini juga tercermin dalam doa Nabi Muhammad SAW:

«اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ»

“Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku, dan air yang dingin.” (HR. Tirmidzi, hasan).

Rabiah al-Adawiyyah, seorang sufi perempuan yang masyhur, adalah ikon dari cinta jenis ini. Doanya yang terkenal menggambarkan kemurnian cinta tanpa pamrih:

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, maka janganlah Engkau halangi aku dari keindahan abadi-Mu.”

Jika demikian, cinta anda cinta jenis apa?

Penjelasan lebih lanjut merujuk kepada penjelasan Ibn ‘Ataillah. Menurut beliau hierarki cinta (al-mahabbah) dalam tasawuf ini membagi hubungan spiritual menjadi empat tingkatan: 

وهي مراتب أربع الحب الله، والحب في الله والحب بالله والحب من الله الحب الله ابتداء والحب من الله انتهاء والحب في الله وبالله واسطة بينها

  • Al-Hubbu Lillah (cinta kepada Allah sebagai tujuan awal dan penggerak utama)
  • Al-Hubbu Fillah (mencintai seseorang semata-mata karena ketaatannya kepada Allah)
  • Al-Hubbu Billah (mencintai dengan dan melalui “mata” Allah, di mana kecintaan hamba bersumber dari kecintaan Allah kepada makhluk-Nya), dan
  • Al-Hubbu Minallah (cinta yang berasal dari Allah sebagai puncak anugerah dan tujuan akhir). 

Al-Hubbu Lillah adalah permulaan perjalanan spiritual, Al-Hubbu Minallah adalah puncak penyempurnaannya, sementara Al-Hubbu Fillah dan Al-Hubbu Billah merupakan perantara yang menghubungkan dan menguatkan cinta hamba kepada Tuhannya.

Baca lebih lanjut: Darimana Datangnya Cinta: Maqãm atau Hãl?

Bacaan:

  • Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulum al-Din.
  • Al-Qusyairi, Abdul Karim. Risalah al-Qusyairiyyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *