. اَللهُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ (3×) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَعْيَادَ لِلْمُسْلِمِينَ سُرُورًا، وَأَفَاضَ عَلَى قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ بَهْجَةً وَنُورًا. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَكُورًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، جَعَلَ الْقُرْبَانَ إِلَيْهِ طَرِيقًا مَعْمُورًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَعْظَمُ النَّاسِ صِدْقًا وَتَلْبِيَةً وَحُبُورًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَكَرِّمْ عَلَى عَبْدِكَ الْمُجْتَبَى الْمُخْتَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ الْأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ، وَمَنْ عَلَى مِنْهَاجِهِمُ اسْتَقَامَ وَسَارَ، وَعَلَى آبَائِهِ وَإِخْوَانِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ سَادَاتِ الْهُدَاةِ الْأَطْهَارِ، وَعَلَى آلِهِمْ وَصَحْبِهِمْ وَتَابِعِيهِمْ وَالْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ، وَعَلَى جَمِيعِ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ وَفِيهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيرِ، فَمَنِ اتَّقَى رَبَّهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا كَبِيرًا.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Jamaah Shalat Idul Adha yang Dirahmati Allah,
Hari ini, gema takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang di penjuru dunia. Kita berkumpul di tempat yang mulia ini dalam rangka merayakan Idul Adha, sebuah kesempatan besar untuk mengambil bagian dari rangkaian ibadah Qurban.
Perlu kita sadari, bahwa esensi utama dari ibadah Qurban bukanlah hanya menyembelih hewan udhiah, membagikan daging, atau ritual tahunan semata. Kata Qurban secara etimologi berasal dari kata al-Qurb (الْقُرْبُ) yang berarti dekat. Dalam kamus Bahasa القُرْبانُ, adalah ‘مَا يُتقَرَّب بِهِ إلى الله تعالى مِنْ ذَبِيحَةٍ وغَيْرِها’, segala sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, baik berupa hewan sembelihan maupun bentuk (amal) lainnya. Juga qurban berarti ‘جَلِيْسُ المُلْكِ وخَاصَّتُه’ Teman duduk (pendamping dekat) raja dan orang-orang khususnya (orang kepercayaan).
Maka, inti dari berqurban adalah meraih kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah ta’ala telah memanggil kita semua, maka “ambil bagian! Cari cara bagaimana agar bisa mendekati Allah Ta’ala!”
Melalui momentum Idul Adha ini, mari kita ambil 4 poin penting bagaimana cara meraih al-Qurb (kedekatan) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pertama: Menyegarkan Kembali Ingatan kepada Allah (Dzikrullah)
Cara pertama untuk meraih kedekatan dengan Allah adalah dengan meneladani para Nabi terdahulu, yaitu dengan senantiasa menyegarkan ingatan kita kepada Allah. Qurban dan Haji adalah representasi dari ingatan yang segar terhadap ketundukan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail alaihimussalam kepada Allah Ta’ala. Orang yang dekat dengan Allah taala tidak akan membiarkan hatinya lalai, ia selalu memperbarui ingatannya melalui zikir dan takbir.
Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan (hari-hari Tasyrik).” (QS. Al-Baqarah: 203)
Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallah juga menegaskan dalam sebuah hadits:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ
“Hari-hari Tasyrik adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir (mengingat) Allah.” (HR. Muslim)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah
Kedua: Mendengarkan dan Menjawab Seruan-Seruan Allah dalam Tauhid
Meraih kedekatan (al-Qurb) mustahil dicapai jika kita menutup telinga dari panggilan Allah ta’ala. Ketika Allah memanggil khususnya untuk berkunjung ke baitullah, seorang mukmin bergetar hatinya dan menjawab: “Labbaik…!”
Kalimat Labbaik (لَبَّيْكَ) bukan ucapan lisan semata, melainkan jawaban tegas atas ketauhidan. Kita menjawab seruan Allah ta’ala sembari menegaskan bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya. Kita menyingkirkan ‘tuhan-tuhan’ lain dalam hidup kita—apakah itu harta, tahta, ego, nafsu atau pun ketergantungan kepada makhluk—melainkan menempatkan Allah taala saja di atas segalanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai keharusan menyambut seruan-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu…” (QS. Al-Anfal: 24)
Dan hamba yang dekat akan mengumandangkan kalimat tauhid murni ini dalam Talbiyahnya:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ
“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu).”
Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar ra., menambah lafazh talbiyah,
لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ
“Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu dengan senang hati. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Segala harapan dan amalan hanya untuk-Mu).” (HR. Bukhari no. 1549 dan Muslim no. 19).
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Jamaah yang Berbahagia,
Ketiga: Memahami Esensi “Kalimah Talbiyah” terbebas dari Tipu Daya Dunia
Mari kita tadabburi kelanjutan dari kalimat Talbiyah: Innal hamda wa ni’mata laka wal mulk, laa syariika lak (Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan/kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu).
Sebagaimana dijelaskan secara mendalam oleh Al-Habib Umar bin Hafidz, kalimat ini adalah kunci pembebasan diri dari belenggu ilusi (al-awham) dan cengkeraman fatamorgana. Ketika kita melantunkan bahwa segala puji, nikmat, dan kekuasaan hanyalah milik Allah, kita sedang membebaskan mental kita dari ketergantungan makhluk. Habib Umar mengingatkan:
إِذَا ظَنَنْتَ أَنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ وَالْمُلْكَ لِغَيْرِ اللهِ، فَأَنْتَ فِي وَهْمٍ. وَهُمْ (أَهْلُ الْأَوْهَامِ) سَيَضْحَكُونَ عَلَيْكَ، وَيَلْعَبُونَ بِعَقْلِكَ، وَفِكْرِكَ، وَسُلُوكِكَ، وَأُسْرَتِكَ، وَحَيَاتِكَ.
“Jika engkau mengira bahwa pujian, nikmat, dan kekuasaan itu ada pada selain Allah, maka engkau sedang berada dalam ilusi. Mereka (staitan dan penebar ilusi) akan menertawakanmu, mempermainkan akalmu, pikiranmu, perilakumu, keluargamu, dan hidupmu.”
Maka, qurban mengajari kita dekat dengan Sang Pemilik Hakiki. Kita menyembelih ego bahwa kita “memiliki” harta atau kekuasaan, karena semua adalah milik-Nya. Harta bukan karena usaha seseorang tapi Allah ta’ala lah yang memberikan nikmat yang tak pernah putus kepada kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ
“Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak, Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!, Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (Al-Kautsar: 1-3)
Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengingatkan kita dalam hadits dari Ibnu Abbas RA untuk lepas dari tipu daya makhluk:
وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ
“Ketahuilah, sekiranya seluruh umat manusia bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, mereka tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu…” (HR. Tirmidzi)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah
Keempat: Membuktikan Kedekatan Melalui Pengorbanan Nyata
Poin terakhir dari rangkaian meraih al-Qurb adalah pembuktian. Kedekatan tidak akan bermakna tanpa adanya pengorbanan (aksi). Kita menyembelih hewan qurban sebagai simbol bahwa kita siap memberikan yang terbaik dari yang kita cintai. Nabi Ibrahim alaihissalam rela memberikan harta berupa hewan ternak untuk mendekatkan diri, bahkan pun puteranya sendiri untuk dikurbankan.
Hilang lah sifat cinta dunia, muncul lah kesadaran bahwa semua hanya titipan, harta, anak dan apapun yang kita miliki sejatinya milik Allah ta’ala. Sepenuhya tulus ikhlas menjadi seorang hamba yang tunduk pada tuannya.
Hewan yang kita sembelih di hari tasyrik mengalirkan darah yang menyimbolkan kepasrahan total kita kepada Allah Ta’ala. Maka dari itu, bukan daging atau darahnya yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dan tulusnya hati kita untuk mendekat semakin dekat ke hadirat Ilahi ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan inti pengorbanan tersebut:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.” (QS. Al-Hajj: 37)
Sungguh rugil ah orang yang menyia-nyiakan anugrah ini. Celakalah orang yang pelit dengan hartanya dan tidak mau berkurban di hari raya sementara ia mampu. Menyembelih hewan kurban hukumnya sunnah muakkad, yaitu sangat dianjurkan yang mana Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak pernah meninggalkannya, dan beliau menyampaikan ancaman khusus bagi yang mampu berkurban sebagai bentuk pembuktian kedekatan:
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Siapa yang memiliki kelapangan (harta) namun ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad & Ibnu Majah)
Maka di hari raya yang mulia ini, mari kita mengambil hikmah, perbarui ingatan kita kepada Allah, jawab seruan-seruan-Nya, perbarui tauhid dengan membebaskan diri kita dari ilusi dunia yang menipu, dan buktikan pula dengan memberikan kurban terbaik jika mampu. Ambil bagianmu, bagian kita, dalam rangkaian ibadah mulia ini agar kita semua dicatat sebagai hamba-hamba yang meraih maqam Al-Qurb, sedekat-dekatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
اَلْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ (2×)
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ النَّاظِرِ إِلَى الْقُلُوبِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ عَلَّامُ الْغُيُوبِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَنْقَى الْمُطَهَّرِينَ عَنِ الْأَدْنَاسِ وَالْعُيُوبِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَكَرِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ إِلَيْهِ مَنْسُوبٌ، وَعَلَى جَمِيعِ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ وَفِيهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ: فَإِنِّي أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ.. فَاتَّقُوا اللهَ فِي مُرُورِ اللَّيَالِي وَالْأَيَّامِ، وَتَذَكَّرُوا وَاشْكُرُوا، وَاصْدُقُوا مَعَ مَنْ يَعْلَمُ مَا تُظْهِرُونَ وَمَا تُضْمِرُونَ، وَمَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ﴿وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ﴾ جَلَّ جَلَالُهُ وَتَعَالَى فِي عُلَاهُ.
أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ بِاللهِ جَلَّ جَلَالُهُ: أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ وَالسَّلَامَ عَلَى الْمُصْطَفَى خَيْرِ الْبَشَرِ، فَإِنَّ مَنْ صَلَّى عَلَى سَيِّدنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَلَقَدْ أَمَرَنَا بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِالْمَلَائِكَةِ وَأَيَّهَ بِالْمُؤْمِنِينَ، فَقَالَ مُخْبِرًا وَآمِرًا لَهُمْ تَكْرِيمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى الْمَبْعُوثِ بِالرَّحْمَةِ، عَبْدِكَ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى الْخَلِيفَةِ مِنْ بَعْدِهِ الْمُخْتَارِ، مُؤَازِرِ رَسُولِ اللهِ فِي حَالَيِ السِّعَةِ وَالضِّيقِ، خَلِيفَةِ رَسُولِ اللهِ سَيِّدِنَا أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، وَعَلَى النَّاطِقِ بِالصَّوَابِ، حَلِيفِ الْمِحْرَابِ، أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ سَيِّدِنَا عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، وَعَلَى مُحْيِي اللَّيَالِي بِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ، وَمُنْفِقِ الْأَمْوَالِ فِي رِضَا مَوْلَاهُ الْمَنَّانِ، أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ ذِي النُّورَيْنِ سَيِّدِنَا عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ، وَعَلَى أخي النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى وَابْنِ عَمِّهِ، وَوَلِيِّهِ وَبَابِ مَدِينَةِ عِلْمِهِ، عَظِيمِ الشَّرَفِ وَالْمَنَاقِبِ، لَيْثِ بَنِي غَالِبٍ، أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ سَيِّدِنَا عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ وَعَلَى الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ سَيِّدَيْ شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِي الْجَنَّةِ وَرَيْحَانَتَيْ نَبِيِّكَ بِنَصِّ السُّنَّةِ، وَعَلَى أُمِّهِمَا الْحَوْرَاءِ فَاطِمَةَ الْبَتُولِ الزَّهْرَاءِ، وَعَلَى خَدِيجَةَ الْكُبْرَى وَعَائِشَةَ الرِّضَا، وَعَلَى الْحَمْزَةِ وَالْعَبَّاسِ، وَسَائِرِ أَهْلِ بَيْتِ نَبِيِّكَ الَّذِينَ طَهَّرْتَهُمْ مِنَ الدَّنَسِ وَالْأَرْجَاسِ، وَعَلَى أَهْلِ بَيْعَةِ الْعَقَبَةِ وَأَهْلِ بَدْرٍ وَأَهْلِ أُحُدٍ وَأَهْلِ بَيْعَةِ الرِّضْوَانِ، وَسَائِرِ الصَّحْبِ الْأَكْرَمِينَ، وَعَلَى جَمِيعِ أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَآلِهِمْ وَصَحْبِهِمْ وَتَابِعِيهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ وَفِيهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَانْصُرِ الْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَأَعْلِ كَلِمَةَ الْمُؤْمِنِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاجْمَعْ شَمْلَ الْمُسْلِمِينَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِأَكْمَلِ الْحُسْنَى وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا. ﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾، وَنَسْأَلُكَ لَنَا وَلِلْأُمَّةِ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ سَيِّدُنا مُحَمَّدٌ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَعَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ أَمَرَ بِثَلَاثٍ، وَنَهَى عَنْ ثَلَاثٍ: ﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
)* disampaikan oleh Dr. Muhamad bin Abdullah Alhadi, MA