Relasi guru dan murid merupakan salah satu inti dari proses pendidikan dan pencarian ilmu dalam tradisi Islam. Dalam khazanah keilmuan Islam, hubungan ini tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan secara akademis, tetapi juga mencakup pembentukan karakter, penyucian jiwa, dan peningkatan kualitas spiritual. Salah satu kisah yang menjadi representasi kuat tentang relasi guru-murid ini adalah kisah pertemuan antara Nabi Musa dan Nabi Khidr yang diabadikan dalam Surah Al-Kahfi, ayat 60 hingga 82.
Dalam konteks pendidikan modern, fenomena kekerasan di dunia pendidikan menjadi perhatian serius. Baik kekerasan fisik maupun verbal yang dilakukan oleh guru terhadap murid atau sebaliknya, mencerminkan degradasi nilai-nilai pendidikan Islam yang seharusnya menekankan kasih sayang (rahmah) dan kebijaksanaan (hikmah). Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 60: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan selama bertahun-tahun.'”
Salah satu intisari pesan dari perjumpaan dari ayat-ayat ini untuk menunjukkan tekad dan keteguhan hati seorang pelajar (Musa) dalam mencari ilmu, sekaligus menunjukkan adanya relasi guru-murid antara Musa dan pembantunya. Al-Razi menafsirkan bahwa perjalanan Musa mencari Khidr menggambarkan etika penting dalam menuntut ilmu: kesabaran, kerendahan hati, dan kesadaran akan batasan pengetahuan seseorang.
Kekerasan dalam pendidikan bertentangan dengan esensi kisah Musa-Khidr. Ketika Musa akhirnya bertemu Khidr, ia memohon untuk belajar dengan rendah hati, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Kahfi ayat 66: “Musa berkata: ‘Jika Engkau menghendaki, niscaya aku akan mengikutimu, agar Engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di sisi Engkau.'”
Permintaan Nabi Musa AS ini menunjukkan adab dalam menuntut ilmu. Seorang murid harus menyadari posisinya dan menghormati guru sebagai sumber ilmu. Kekerasan, baik fisik maupun verbal, menghilangkan rasa hormat dan menciptakan ketakutan, bukan rasa cinta terhadap ilmu.
Salah satu pelajaran penting dari kisah ini adalah pentingnya kesabaran dalam proses pembelajaran. Ketika Khidr melakukan tiga perbuatan yang tampaknya aneh dan tidak dapat diterima oleh Musa, ia akhirnya tidak sabar dan menegur Khidr. Allah SWT mencatat peristiwa ini dalam Surah Al-Kahfi ayat 75: “Musa berkata: ‘Apakah (maksudmu) bertindak demikian, sedangkan kamu tidak menyebutkan alasan kepadaku di muka?'”
Kesabaran boleh jadi menjadi kunci penting dalam proses pembelajaran. Kekerasan dalam pendidikan mencerminkan ketidaksabaran guru terhadap proses belajar murid atau ketidaksabaran murid terhadap metode pengajaran guru. Padahal, seperti yang ditunjukkan dalam kisah Musa-Khidr, setiap tindakan pendidik memiliki hikmah yang mungkin tidak langsung terlihat.