Dalam tasawuf hãl (keadaan) itu dicari sedangkan maqãm (tingkatan) itu lebih kepada pemberian Allah ta’ala. Bagaimana pula pandangan al-Quran?
Cinta adalah maqam menurut Ibn Arabi. Demikian juga menurut al-Ghazali, cinta kepada Allah (mahabbatullah) merupakan tingkatan (maqam) puncak dari rangkaian dalam tasawuf. Tak ada lagi tingkatan setelah mahabbah selainnya hanya sekedar efek sampingnya saja, seperti rindu (shauq), mesra (uns), rela (ridha), dan sifat-sifat lain yang serupa. tidak ada satu tingkatan pun sebelum mahabbah selain hanya sekedar pendahuluan atau pengantar menuju ke arah mahabbah, seperti taubat, sabar, zuhud, dan lain-lain.
Pandangan ini sejalan ayat Surat Al-Anfal ayat 63:
وَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْۗ لَوْاَنْفَقْتَ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مَّآ اَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ اَلَّفَ بَيْنَهُمْۗ اِنَّهٗ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
“dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Al-Anfal/8: 63)
Ayat ini turun sehubungan Penduduk Madinah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah selalu bermusuhan dan setelah mereka masuk Islam, permusuhan itu hilang. Demikian juga sejalan dengan Q.S Thaha [20]: 39,
وَاَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّيْ ەۚ وَلِتُصْنَعَ عَلٰى عَيْنِيْ ۘ….
“…. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku, dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (Thaha [20]: 39)
Namun, bagi al-Qushairi, mahabbah merupakan hal. Menurutnya, cinta kepada Tuhan merupakan suatu keadaan yang mulia saat Tuhan bersaksi untuk sang hamba atas keadaannya tersebut. Tuhan memberitahukan tentang cinta-Nya kepada sang hamba. Dengan demikian, Tuhan disifati sebagai yang mencintai sang hamba. Selanjutnya, sang hamba pun disifati sebagai yang mencintai Tuhan.
Pandangan ini sejalan dengan Al-Maidah [5]: 54
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. Al-Maidah [5]: 54
Perhatikan potongan ayat (فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ), Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya. Artinya ada upaya manusia untuk mengejar cinta Allah ta’ala dan kemudian Allah ta’ala pun membalas cinta itu, sebagaimana pula diisyaratkan dalam Al-Imran: 31:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Imran/3: 31)
Apakah Tuhan mencintai hamba-Nya? Apa, bagaimana dan seperti apa? Baca lebih lanjut: Bentuk Cinta Tuhan Dalam Al-Quran