Al-Quran menggunakan beberapa istilah untuk merujuk kepada cinta dan kasih sayang, di antaranya adalah Hubb (mahabbah), al-wuddu, rahmah, shagaf, mail, dan ra’fah.
a. Al-Hubb (mahabbah)
Kata al-hubb dalam seluruh bentuk turunannya disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 83 kali. Dari sudut pandang bahasa Arab, kata-kata ini terbagi ke dalam empat model wazan (pola kata): fa’ala yaf’ilu (habba-yuhibbu) disebutkan 10 kali, seperti dalam Q.S Al-Baqarah [2]: 165, Q.S Ali ‘Imran [3]: 14, dan Q.S Yusuf [12]: 30. Pola af’ala-yuf’ilu (ahabba-yuhibbu) muncul 64 kali. Pola fa’-‘ala-yufa’-‘ilu (habbaba-yuhabbibu) hanya disebut sekali dalam Q.S Al-Hujurat [49]: 7. Selanjutnya, pola istaf’ala-yastaf’ilu (istahabba-yastahibbu) disebut 4 kali, yaitu dalam Q.S At-Taubah [9]: 23, Q.S An-Nahl [16]: 107, Q.S Fushshilat [41]: 17, dan Q.S Ibrahim [14]: 3. Kata ini juga muncul dalam bentuk fi’il tafdil (bentuk perbandingan) sebanyak 3 kali dalam Q.S At-Taubah [9]: 24, Q.S Yusuf [12]: 8, dan Q.S Yusuf [12]: 33, serta sekali dalam bentuk isim fa’il jamak (ahibba’) dalam Q.S Al-Maidah [5]: 18.
Al-Qur’an menggambarkan kondisi al-hubb atau mahabbah ini dalam berbagai bentuk, kondisi, dan konteks. Misalnya, digambarkan sebagai kecenderungan hati yang timbul karena adanya sesuatu yang menyenangkan, seperti dalam Q.S Al-Baqarah [2]: 165, Q.S Ali ‘Imran [3]: 14, dan Q.S Yusuf. Al-Qur’an juga menggambarkan kecintaan manusia kepada sesuatu karena manfaat yang dapat diperoleh, seperti dalam Q.S Al-Baqarah [2]: 177, di mana cinta diwujudkan dengan memberikan sebagian harta yang dicintai kepada orang yang membutuhkan.
Kata mahabbah sendiri secara eksplisit hanya disebut sekali dalam Q.S Thaha [20]: 39, “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku.” Ayat ini menegaskan bahwa Allah-lah yang menanamkan rasa cinta ke dalam hati makhluk-Nya. Sebuah penafsiran mencontohkan bagaimana Allah melemparkan kecintaan-Nya ke dalam hati Fir’aun terhadap Musa, sehingga musuh Allah itu pun jatuh cinta saat pertama kali melihatnya.
b. Al-Wuddu/Mawaddah
Kata al-wuddu atau mawaddah dan semua bentuk turunannya disebutkan di dalam al-Qur’an sebanyak 25 kali. Sementara kata al-wadud ditemukan dua kali: dalam konteks anjuran bertobat (Q.S Hud [11]: 90) dan sebagai penjelasan sifat Allah (Q.S Al-Buruj [85]: 13-14). Allah Swt. disifati dengan al-wadud, yang berarti Maha Mencintai hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh sebagai bukti kecintaan mereka.
Kata al-wuddu/mawaddah berasal dari akar kata wadda-yawaddu yang mengandung makna cinta dan harapan. Al-Biqa’i (w. 885 H) menjelaskan bahwa rangkaian huruf ini mengandung arti kelapangan dan kekosongan, di mana al-wadud dimaknai sebagai kelapangan dada dan jiwa yang bersih dari kehendak buruk.
Mawaddah dapat dipahami dalam beberapa pengertian:
Pertama, sebagai cinta (mahabbah) yang disertai keinginan untuk memiliki (tamanni kaunihi). Kedua hal ini saling terkait, di mana keinginan kuat melahirkan cinta. Seperti dalam Q.S Al-Rum [30]: 21, “…Dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang…” Mawaddah dalam konteks perkawinan bukan sekadar cinta biasa, melainkan mendorong penyatuan. Bahkan, sebagian ulama mengartikannya dengan mujaama’ah (bersenggama).
Kedua, berarti kasih sayang murni, seperti dalam Q.S asy-Syura [42]: 23, “Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan’.” Mawaddah di sini adalah cinta dan sayang yang menjaga hubungan kekerabatan, berbeda dengan cinta suami-istri.
Ketiga, berarti keinginan atau kecenderungan, seperti yang terlihat dalam Q.S Ali ‘Imran [3]: 69, Q.S Al-Hijr [15]: 2, dan Q.S Al-Baqarah [2]: 96.
c. Rahmah
Kata rahmah dan seluruh bentuk turunannya terulang sebanyak 339 kali dalam al-Qur’an. Kata ini berasal dari rahima-yarhamu-ruhman yang secara dasar berarti anugerah, lembut, dan kasih sayang. Hujan, rezeki, rasa aman, ampunan, dan surga disebut rahmah karena merupakan anugerah Allah. Rahmah juga mencakup makna kasih sayang (riqqah), pemaaf (maghfirah), dan kelembutan hati (ta’atuf). Kata rahima berarti ikatan darah atau hubungan kerabat. Penamaan rahim (peranakan) pada perempuan merujuk pada tempat lahirnya anak yang akan menerima kasih sayang. Dengan demikian, kerabat disebut rahim karena di antara mereka terjalin kasih sayang. Namun, rahmah dalam arti budi baik (ihsan) yang sempurna adalah kekhususan milik Allah Swt.
d. Al-Shaghaf
Al-Qur’an hanya menggunakan istilah ini sekali, yaitu dalam Q.S Yusuf [12]: 30, yang mengisahkan cinta mendalam istri Al-‘Aziz, Zulaikha, kepada Nabi Yusuf as. Ibnu ‘Abbas menafsirkan al-shaghaf sebagai cinta yang sangat mendalam dan memabukkan, yang bisa “membunuh” atau menguasai seluruh dinding hati. Orang yang dilanda cinta jenis ini digambarkan seperti tidak sadarkan diri atas apa yang dilakukannya.
e. Mail
Istilah mail dengan semua bentuk turunannya disebutkan 5 kali dalam al-Qur’an, dan semuanya berada dalam Surah an-Nisa’ [4]: 27, 102, dan 129. Kata mail yang berakar dari mala-yamilu menunjukkan makna kemiringan atau kecondongan terhadap sesuatu. Harta kekayaan disebut mal atau mail karena sifatnya yang sementara; ada saatnya ia dimiliki dan pada saat lain bisa hilang dan sirna.
f. Ra’fah
Kata ra’fah berasal dari raufa-yarufu-ra’fatan yang mengandung arti lemah lembut dan kasih sayang. Maknanya mirip dengan rahmah, tetapi lebih spesifik. Ra’fah menggambarkan kasih sayang yang besar, dan pelakunya disebut ra’uf. Perbedaannya, ra’fah adalah kasih sayang yang diberikan kepada orang yang memiliki hubungan khusus dengan sang pemberi, sedangkan rahmah bisa diberikan kepada siapa saja, baik yang memiliki hubungan maupun tidak.
Sebagai refleksi dan pelengkap, berikut Abdul Qadir Isa menyusun tingkatan cinta menurut Ibnu al-Qayyim sebagai berikut:
- 1. Al-‘Ilaqah (gantungan), karena tergantungnya hati pada sang kekasih.
- 2. Al-Iradah (keinginan), condongnya hati kepada Sang Kekasih dan usaha untuk mencari-Nya
- 3. Al-Shababah (ketercurahan), yaitu tercurahnya hati pada Sang Kekasih, sehingga pemiliknya tidak dapat menguasainya, sebagaimana tercurahnya air di puncak gunung.
- 4. Al-Gharam (cinta yang menyala-nyala), yaitu cinta yang selalu ada dalam hati dan tidak dapat meninggalkannya. Dia selalu menetap, sebagaimana seorang kekasih yang selalu menetap pada kekasihnya.
- 5. Al-Widad (kelembutan), yaitu kesucian, ketulusan dan isi dari cinta.
- 6. Al-Shaghaf (cinta yang mendalam), yaitu sampainya cinta ke dalam lubuk hati. Al-Junaid berkata, ‚Al-Shaghaf adalah orang yang mencintai tidak melihat pada kekasaran, akan tetapi melihatnya sebagai keadilan dan kesetiaan.
- 7. Al-‘Ishq (kerinduan), yaitu cinta yang berlebihan dan pemiliknya dikhawatirkan karenanya.
- 8. Al-Tatayyum, yaitu memperbudak dan merendahkan diri. Dikatakan, ‚Tayyamahu al-h}ubb‛ cinta telah merendahkan dan memperbudaknya.
- 9. Al-Ta’abbud (penghambaan), yaitu tingkatan diatas al-tatayyum. Sebab, seorang hamba tidak lagi mempunyai apa-apa pada dirinya.
- 10. Al-Khullah. Ini hanya dimiliki oleh dua khalil (kekasih), yaitu Ibrahim a.s. dan Muhammad SAW. Al-khullah artinya cinta yang memenuhi jiwa dan hati orang yang mencintai, sehingga tidak ada lagi tempat di hatinya selalin untuk yang dicintainya
Baca lebih lanjut: Tafsir Cinta: Tingkatan Cinta dalam Perspektif Tasawuf